.

Search

Kamis, 27 Mei 2021

Manajemen Konflik dan Kompromi sebagai Solusi Konflik

Manajemen Konflik dan Kompromi sebagai Solusi Konflik

1.  Manajemen Konflik dapat mengatasi konflik dengan mendorong konflik, mengurangi konflik, atau mengatasi konflik.

a. Mendorong Konflik

Konflik yang sehat diperlukan dalam suatu organisasi. Beberapa cara dapat dipakai untuk mendorong konflik.

(1) Manajer dapat mendorong konflik dengan mengadakan kompetisi atau persaingan, menawarkan bonus, atau menggunakan stimulus yang lain.

(2) Mendatangkan orang luar juga dapat meningkatkan konflik, khususnya jika manajer dari luar tersebut mempunyai kebiasaan yang lain dari kebiasaan yang ada dalam organisasi saat ini.

(3) Cara lain adalah dengan merubah prosedur yang sudah mapan.

(4) Restrukturisasi organisasi dengan mengubah departemen dan struktur wewenang dapat menciptakan periode ketidakpastian dan penyesuaian.

(5) Mengubah jaringan informasi dapat mendorong konflik.

(6) Memilih manajer yang tepat.

b. Mengurangi Konflik

Pengurangan konflik bertujuan mendinginkan situasi meskipun tidak memecahkan sumber yang mendorong konflik. Beberapa cara dapat digunakan untuk mengurangi konflik.

(1) Menambah sumber daya yang di perebutkan dapat mengurangi konflik, tentunya jika organisasi mempunyai sumber daya yang cukup.

(2) Manajer dapat mengganti tujuan-tujuan yang menjadi sumber konflik dengan tujuan yang lebih tinggi dan yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang bertentangan.

(3) Memasukan “musuh” yang dapat menyatukan pihak-pihak yang bertentangan. Pada waktu karyawan organisasi meminta kenaikan gaji, sedangkan situasi ekonomi tidak mendukung, manajer dapat mengingatkan bahwa organisasi harus efisien dan salah satu cara mengefisienkan organisasi adalah mengendalikan upah pekerja. Kalau tidak, pesaing akan menghancurkan organisasi.

(4) Koordinasi dapat dilakukan untuk mengurangi konflik. Beberapa teknik koordinasi, seperti integrasi departemen, menggunakan prosedur dan aturan serta menggunakan hierarki manajerial merupakan teknik yang dapat dipakai.

(5) Manajemen dinamika interpersonal merupakan cara lain untuk mengurangi konflik.

c. Mengatasi Konflik

Ada tiga jenis pemecahan: Dominasi atau penekanan, kompromi, dan pendekatan integratif.

(1) Dominasi

Dominasi mempunyai ciri: (a) menekan konflik, bukannya mengatasi konflik agar tidak tampak lagi di permukaan; (b) menghasilkan situasi menang-kalah (win-lose), yaitu pihak yang kalah dipaksa untuk menyerah. Beberapa cara dominasi:

(a) Penekanan (forcing): dengan cara ini, manajer mengambil suatu keputusan tertentu.

(b) Penenangan (smoothing): cara semacam ini merupakan cara yang lebih diplomatis.

(c) Penghindaran (avoidance): manajer tidak mau menangani atau pura-pura tidak tahu adanya konflik.

(d) Aturan mayoritas (majority rules): konflik diselesaikan dengan pemungutan suara.

(e) Akomodasi dilakukan jika salah satu pihak yang berkonflik bersedia memenuhi keinginan pihak lainnya.

(f) Kompetisi: dalam kompetisi, masing-masing pihak yang berkonflik dibiarkan mencapai tujuannya sendiri, tanpa memedulikan kepentingan atau tujuan pihak lainnya.

(2) Kompromi

Kompromi dilakukan untuk menemukan jalan tengah yang dapat diterima oleh pihak yang bertentangan. Cara ini membuat pihak-pihak yang bertentangan tidak merasa frustasi atau dikecewakan meskipun tidak ada pihak yang terpuaskan penuh. Cara ini dimungkinkan jika setiap pihak yang berkepentingan tidak hanya memfokuskan pada tujuan pribadinya, tetapi juga bersedia mencapai tujuan pihak lainnya. Masing masing pihak bersedia memberi dan menerima serta bersedia memberikan toleransi kepada pihak lain sampai solusi yang terbaik ditemukan. Meskipun tampaknya cara ini baik untuk individu yang terlibat, dari segi organisasi cara ini mempunyai kerugian karena dalam kompromi hasil yang diperoleh cenderung suboptimal (tidak optimal). Berikut bentuk-bentuk kompromi :

(a) Pemisahan (separation): pihak-pihak yang terlibat dipisahkan sampai mereka sepakat terhadap suatu pemecahan.

(b) Arbitrasi: pihak-pihak yang bertentangan menyerahkan masalahnya ke pihak ketiga untuk menyelsaikan masalah tersebut.

(c) Pemecahan secara random (by chance): pemecahan dilakukan apabila konflik tidak terlalu besar.

(d) Kembali ke peraturan yang berlaku. Aturan yang berlaku dalam organisasi digunakan untuk memecahkan konflik.

(e) Kompensasi (bribing): satu pihak menerima kompensasi untuk mengalah.

c. Pendekatan integratif

Dengan pendekatan ini, konflik antarkelompok diubah menjadi situasi pemecahan masalah bersama yang dapat diselesaikan dengan teknik pemecahan masalah. Pihak-pihak yang terlibat dalam konflik dihadirkan bersama, kemudian mereka mendiskusikan pemecahan masalah yang terbaik. Manajer yang mendorong pertukaran informasi serta diskusi yang bebas menekankan manfaat bersama yang akan diperoleh dari pemecahan yang optimal dan mempunyai kemungkinan yang tinggi untuk memperoleh pemecahan yang integral. Tiga jenis pemecahan yang integral sebagai berikut.

(1) Konsensus: pihak yang terlibat dipertemukan, kemudian mendiskusikan pemecahan terbaik, bukan pemecahan yang tidak memenangkan salah satu pihak. Konsensus biasanya menawarkan pemecahan yang lebih baik dibanding dengan pemecahan individual. Manajer harus berhati-hati terhadap konsensus yang terlalu awal karena pihak yang terlibat barangkali hanya menginginkan diskusi lebih cepat selesai, bukan mencari alternatif yang paling baik.

(2) Konfrontasi: dalam konfrontasi, pihak-pihak yang bertentangan dihadapkan dan saling menyatakan pendapatnya secara langsung satu sama lain. Alasan terjadinya konflik kemudian dianalisis dan dengan kesedian menerima pemecahan, alternatif yang rasional dapat dicari.

(3) Penetapan tujuan yang lebih tinggi juga dapat dipakai dalam pendekatan ini jika tujuan tersebut dapat memasukan tujuan yang lebih rendah yang saling bertentangan.

 

2. Mengatasi konflik dengan kompromi

Kompromi dilakukan untuk menemukan jalan tengah yang dapat diterima oleh pihak yang bertentangan. Cara ini membuat pihak-pihak yang bertentangan tidak merasa frustasi atau dikecewakan meskipun tidak ada pihak yang terpuaskan penuh. Cara ini dimungkinkan jika setiap pihak yang berkepentingan tidak hanya memfokuskan pada tujuan pribadinya, tetapi juga bersedia mencapai tujuan pihak lainnya. Masing-masing pihak bersedia memberi dan menerima serta bersedia memberikan toleransi kepada pihak lain sampai solusi yang terbaik ditemukan. Meskipun tampaknya cara ini baik untuk individu yang terlibat, dari segi organisasi cara ini mempunyai kerugian karena dalam kompromi hasil yang diperoleh cenderung suboptimal (tidak optimal). Berikut bentuk-bentuk kompromi :

(a) Pemisahan (separation): pihak-pihak yang terlibat dipisahkan sampai mereka sepakat terhadap suatu pemecahan.

(b) Arbitrasi: pihak-pihak yang bertentangan menyerahkan masalahnya ke pihak ketiga untuk menyelsaikan masalah tersebut.

(c) Pemecahan secara random (by chance): pemecahan dilakukan apabila konflik tidak terlalu besar.

(d) Kembali ke peraturan yang berlaku. Aturan yang berlaku dalam organisasi digunakan untuk memecahkan konflik.

(e) Kompensasi (bribing): satu pihak menerima kompensasi untuk mengalah.

 


Sumber referensi :

BMP Manajemen;1-2/EKMA4116/4sks/Mamduh Hanafi, cet.12;Ed.2.

 

Proses Seleksi Karyawan dan Definisi Demosi, Promosi, Transfer, serta PHK

Proses Seleksi Karyawan dan Definisi Demosi, Promosi, Transfer, serta PHK

1. Proses Seleksi Karyawan

Seleksi ditujukan untuk memilih tenaga kerja yang diinginkan. Idealnya seleksi merupakan proses dua arah: organisasi menawarakan posisi kerja dengan imbalannya, sedangkan calon tenaga kerja mengevaluasi organisasi dan daya tarik posisi serta imbalan yang ditawarkan. Dalam kenyataannya, proses seleksi belum ditentukan oleh kekuatan tawar-menawar antara organisasi dan calon tenaga kerja.

Langkah dalam proses seleksi antara lain:

a. Lamaran Kerja

Lamaran kerja yang lengkap memberikan informasi pertama mengenai pelamar kerja, seperti pendidikan, pengalaman, kegiatan ekstrakurikuler, minat, dan posisi yang diinginkan.

b. Wawancara Awal

Wawancara awal digunakan untuk melihat secara cepat apakah calon cocok untuk pekerjaan yang ditawarkan. wawancara dapat dilakukan untuk melihat pengalaman kerja, tingkat gaji yang diinginkan, dan kemauan untuk pindah lokasi.

c. Tes

Tes ditujukan untuk melihat kemampuan atau keterampilan calon untuk belajar atau untuk mengerjakan tugas yang ditawarkan. Tes yang dikerjakan mencakup tes pengetahuan, tes kecerdasan, tes psikologi, tes kemampuan komputer, atau penggunaan software. Ter tersebut akan tergantung pada jenis pekerjaan yang akan dilakukan.

d. Evaluasi Latar Belakang

Evaluasi latar belakang ingin melihat kebenaran informasi yang diberikan oleh pelamar kerja. Jika pelamar menyebutkan referensi, manajer dapar referensi yang disebutkan. Manajer juga dapat menggunakan sumber lain untuk menginformasi kebenaran informasi yang disebutkan oleh pelamar kerja.

e. Wawancara Mendalam

Setelah tes-tes terdahulu dilampaui, wawancara yang lebih mendalam dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih lanjut mengenai pelamar. Wawancara tersebut juga dapat digunakan untuk mengonfirmasi kebenaran informasi yang diberikan secara tertulis.

f. Tes Kesehatan dan Fisik

Langkah selanjutnya adalah tes kesehatan yang biasanya merupakan langkah yang tidak begitu penting, kecuali jika calon tenaga kerja mempunyai penyakit atau cacat serius.

g. Penawaran Kerja

Jika pelamar sudah lulus semua tahap seleksi, pelamar siap bergabung dengan organisasi. Organisasi memberikan penawaran kerja kepada calon tersebut. Penawaran dapat dilakukan melalui beberapa cara, seperti pemberitahuan lewat pos, media masa, atau pengumuman di tempat organisasi.

 

2.  Pengertian Demosi, promosi, transfer, dan PHK

Demosi adalah diturunkannya jabatan karyawan karena karyawan tidak menunjukan prestasi atau malah merugikan perusahaan.

Promosi adalah pengembangan karir karyawan karena karyawan mempunyai prestasi yang baik.

Transfer adalah pemindahan kerja, baik dalam arti lokasi maupun jenis pekerjaan.

Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) adalah alternatif terakhir apabila demosi atau transfer bukan alternatif yang layak

 

Sumber referensi :

BMP Manajemen;1-2/EKMA4116/4sks/Mamduh Hanafi, cet.12;Ed.2.

 

Tipe Organisasi berdasarkan Fungsi dan Organisasi Pasar atau Produk

Tipe Organisasi berdasarkan Fungsi dan Organisasi Pasar atau Produk

1. Tipe Organisasi

            Organisasi dapat disusun dalam tiga cara yang umum berdasarkan fungsi, produk atau pasar, dan matriks.

a. Berdasarkan Fungsi

       Dalam bentuk ini, organisasi disusun dalam bagian yang mempunyai aktivitas-aktivitas yang sama atau yang berkaitan.

1) Keuntungan

- Kerja yang lebih efisien dapat diharapkan karena disatukannya aktivitas-aktivitas yang berkaitan.

- Pengawasan menjadi lebih mudah karena pengawasan dilakukan terhadap pekerjaan yang seragam, dan mobilisasi sumber daya lebih mudah dilakukan.

2) Kelemahan

-  Lebih sulit mengintegrasikan dan mengoordinasikan departemen yang terpisah dan berbeda satu sama lain.

-  Pengambilan keputusan yang cenderung lebih lambat karena keputusan selalu diambil oleh direktur utama dan pertanggungjawaban juga menjadi kurang jelas.

Oleh karena itu, organisasi fungsional lebih cocok digunakan terutama oleh organisasi kecil.

b. Organisasi pasar atau produk

Jika organisasi menjadi semakin besar, organisasi dapat disusun berdasarkan produk, pasar atau konsumen-nya.

1) Keuntungan

- Pengambilan keputusan menjadi semakin cepat

- Koordinasi menjadi semakin mudah

- Beban manajemen puncak juga menjadi berkurang karena melalui otonomi.

-  Pertanggungjawaban juga menjadi jelas

2) Kelemahan

- Naiknya biaya operasional karena staf dan karyawan menjadi semakin besar.

- Terjadi duplikasi kegiatan/fungsi dalam organisasi

c. Stuktur Matriks

       Struktur organisasi matriks berusaha menggabungkan sisi positif struktur fungsional dan struktur divisi. struktur fungsional mempunyai sisi positif karena mendorong spesialisasi tetapi koordinasi menjadi sulit di lakukan. struktur divisi mendorong koordinasi tetapi tidak terlalu mendorong spesialisasi keahlian.

1) Keuntungan

- Struktur ini fleksibel karena tim kerja dapar dibentuk, diubah, atau dibubaran apabila telah selesai.

- Karyawan akan semakin termotivasi

- Karyawan memperoleh kesempatan untuk mendapat ilmu baru.

- Organisasi dapat memanfaatkan sumber daya secara efisien

- desain matriks mendorong desentralisasi

2)  Kelemahan

- Hubungan pelaporan menjadi tidak jelas dan mengarah pada situasi kekacauan.

- Pengambilan keputusan kelompok cenderung lebih lama dibandingkan dengan pengambilan oleh perorangan

 

Sumber referensi :

BMP Manajemen;1-2/EKMA4116/4sks/Mamduh Hanafi, cet.12;Ed.2.

Keputusan (Decision) | Tipologi dan Metode Pengambilan Keputusan (Making Decision)

Keputusan (Decision) | Tipologi dan Metode Pengambilan Keputusan (Making Decision)

1. Tipe Keputusan

    a. Keputusan terprogram (programmed decision)

         Keputusan terprogram merupakan keputusan yang terstuktur atau yang muncul berulang-ulang atau keduannya. Karena keputusan tersebut muncul berulang-ulang, organisasi biasanya mempunyai aturan, kebijakan, dan prosedur yang dipakai untuk memberi arahan bagaimana keputusan tersebut dibuat.

     b. Keputusan tidak terprogram (nonprogrammed decision)

       Keputusan tidak terprogram merupakan keputusan yang tidak terstruktur, jarang muncul, atau keduanya. Keputusan tersebut berasal dari masalah yang luar biasa atau tidak biasa muncul. Karena tidak terstruktur dan jarang muncul, tidak ada pedoman yang cukup terperinci untuk menangani masalah tersebut.


2.  Metode Pengambilan Keputusan

     a.  Metode Kuantitatif

       Metode kuantitatif menggunakan data angka (kuantitatif) untuk memperkirakan kondisi masa mendatang. Ada dua jenis metode kuantitatif: 1) time series yaitu metode yang dikerjakan dengan mengurutkan daa berdasarkan urutan waktu, kemudian memperkirakan kondisi mendatang. 2)  causal forecasting (sebab akibat) yaitu faktor-faktor di luar sistem diasumsikan memengaruhi variabel  yang kita amati.

      b.  Metode Kualitatif

       Metode kualitatif menggunakan pertimbangan serta pengetahuan dan pengalaman individu atau kelompok, bukannya menggunakan analisis matematika dan statistik yang canggih. Ada beberapa jenis metode pengambilan keputusan:

1) Metode pendapat kelompok eksekutif (jury of executive opinion method)

            Dalam metode ini, manajer dikumpulkan dan dimintai pendapatnya mengenai penjualan di masa mendatang.

2) Metode delphi

            Metode menggunakan konsensus dari para ahli (pakar) yang memberikan kontribusi secara individual.

3) sales-force-composition

            Dalam metode ini, salesman melakukan kontak langsung dengan konsumen dan dapat menggunakan kontak tersebut sebagai dasar prediksi penjualan di masa mendatang.

4) Analisis multikriteria atau analisis multiatribut

            Analisis ini ditunjukan untuk mencegah kecenderungan manusia yang memfokuskan pada satu alternatif saja yang paling menarik dan melupakan atribut lainnya yang penting.



Sumber referensi :

BMP Manajemen;1-2/EKMA4116/4sks/Mamduh Hanafi, cet.12;Ed.2.

Materi Inisiasi 4; PENGAMBIL KEPUTUSAN DAN ALAT PERENCANAAN. Desy Tri A

 

Perencanaan Bisnis | Jenis, Bagan, dan Hambatan dalam Perencanaan


Perencanaan Bisnis | Jenis, Bagan, dan Hambatan dalam Perencanaan

1. Jenis-jenis Perencanaan

   a. Perencanaan Strategis

       Rencana strategis merupakan rencana jangka panjang untuk mencapai tujuan strategis. Fokus rencana ini adalah organisasi secara keseluruhan. Rencana strategis dapat dilihat sebagai rencana secara umum yang menggambarkan alokasi sumber daya, prioritas dan langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan strategis.

   b. Perencanaan Taktis

       Perencanaan taktis ditujukan untuk mencapai tujuan taktis, yaitu untuk melaksanakan bagian tertentu dari rencana strategis. Rencana taktis mempunyai jangka waktu yang lebih pendek dibandingkan dengan rencana strategis dan mempunyai fokus yang lebih sempit dan lebih konkret.

  c. Perencanaan Operasional

      perencanaan operasional diturunkan dari perencanaan taktis, mempunyai fokus yang lebih sempit, jangka waktu yang lebih pendek dan melibatkan manajemen tingkat bawah. Dua jenis rencana operasional: rencana tunggal (sekali pakai) dan standing plan (dapat dipakai berkali-kali).


2. Bagan perencanaan operasional dan perencanaan strategis




3. Hambatan dan Pemecahan masalah dalam perencanaan

 A. Dalam perencanaan mempunyai kemungkinan hambatan seperti:

  •  Tujuan yang tidak tepat
  •  Sistem balasan yang tidak tepat
  • Lingkungan yang kompleks dan dinamis
  • Keengganan untuk menetapkan tujuan atau melepaskan tujuan yang lain (alternatif)
  • Keenganan untuk berubah
  • Pembatasan (constraints)
  • Tidak memahami lingkungan
  • Tidak memahami organisasi
  • Tidak percaya diri

B.  Dan cara mengatasi hambatan dalam perencanaan agar tujuan perencanaan dapat tercapai seperti:

  • Memahami tujuan dan perencanaan
  • Komunikasi dan partisipasi
  • Konsistensi, revisi dan perbaikan
  • Sistem balasan yang efektif
  • Membantu individu untuk menetapan tujuan
  • Mengatasi keengganan untuk berubah

Etika Bisnis, Tanggung Jawab, dan Organisasi di era Globalisasi

Etika Bisnis, Tanggung Jawab, dan Organisasi di era Globalisasi

1. Etika Bisnis melibatkan pertanyaan baik tidaknya sesuatu. Dalam kaitannya dengan organisasi, etika bisnis mempertanyakan baik tidaknya suatu keputusan yang diambil organisasi dalam kaitannya dengan pihak lain yang berkaitan. Etika bisnis dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keluarga, situasi, nilai moral dan agama, pengalaman serta teman.

dalam penerapannya, etika bisnis dalam organisasi muncul dari hubungan organisasi dengan pihak ekternal dan internal. Ada tiga macam wilayah etika dalam organisasi yaitu (1)hubungan organisasi dengan karyawan; (2) hubungan karyawan dengan organisasi; (3) hubungan organisasi dengan pihak luar.

Tanggung Jawab dalam organisasi merupakan pelaksanaan tuntutan etika yang dilakukan organisasi untuk memenuhi tuntutan lingkungannya. Tanggung jawab organisasi dapat menggunakan beberapa pendekatan yaitu penghindaran, kewajiban, respons dan kontribusi sosial. Manajemen tanggung jawab organisasi mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian kegiatan atau program sosial.


2. Dalam era globalisasi, sebuah organisasi harus merespon globalisasi dengan sikap terbuka, bersedia membuka diri dan belajar dari negara lain, serta selalu berusaha memperbaiki diri sehingga globalisasi bisa menjadi  kesempatan  bagi sebuah organisasi.

Oleh karena itu, globalisasi yang menjadikan jarak tempuh antar dunia menjadi sempit dan cepat, mengharuskan sebuah organisasi membuat strategi yang efesien dan efektif supaya dapat bersaing dalam kancah global. Sebagai contoh, organisasi multinasional (multinational corporation atau MNC) yang merupakan organisasi yang beroperasi di dua negara atau lebih, yang membuat struktur organisasi MNC menjadi relevan dengan globalisasi. Karena perilaku manajernya yang selalu berusaha mengoptimalkan sumber daya dunia (lintas batas negara) dan karena prinsip kerjanya yang fleksibel atau input organisasi-nya sangat mudah dipindah-pindahkan.  Strategi organisasi MNC dalam bersaing dalam kancah global dilakukan secara bertahap. Pertama dengan melakukan ekspor, jika kondisinya sudah pasti maka organisasi MNC bisa melangkah lebih lanjut, misalnya dengan mendirikan kantor penjualan, cabang dan pabrik di negara lain supaya mendapatkan keuntungan secara lebih optimal.


Sumber referensi : BMP Manajemen;1-2/EKMA4116/4sks/Mamduh Hanafi, cet.12;Ed.2.

 

Sabtu, 22 Mei 2021

Manajemen | Definisi, Proses, dan Jenis Berdasarkan Fungsi

Manajemen | Definisi, Proses, dan Jenis Berdasarkan Fungsi

1.   A. Definisi Manajemen

a. Manajemen mencakup kegiatan yang dilakukan oleh satu atau lebih orang untuk mengoordinasikan kegiatan yang dilakukan oleh orang lainnya dan untuk mencapai tujuan yang tidak bisa dicapai oleh satu orang saja (Donnely, Gibson dan Ivancevich).

b.   Manajemen adalah perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, serta pengendalian sumber daya manusia dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien (Jones dan George).

c.   Manajemen adalah seni mencapai sesuatu melalui orang lain (Mary Parker Follet).

d.  Manajemen perencanaan, pengorgaanisasian, pengarahan, pengendalian, aktivias anggota organisasi dan kegiatan yang menggunakan sumber daya organisasi untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditentukan (Stoner, Freeman dan Gilbert).

 

2.   B. Proses Manajemen

Proses manajemen meliputi:

a.       Perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah kegiatan menetapkan tujuan organisasi dan memilih cara yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.

b.      Pengorganisasian (Organizing dan Staffing)

Pengorganisasian adalah kegiatan mengoordinasi sumber daya, tugas dan otoritas di antara anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai dengan cara yang efisien dan efektif.

c.       Pengarahan (Leading)

Pengarahan adalah kegiatan yang meliputi kegiatan memberi pengarahan (directing), memengaruhi orang lain (influencing) dan memotovasi orang tersebut untuk bekerja (motivating)

d.      Pengendalian (Controlling)

Pengendalian adalah kegiatan yang meliputi: (1) menentukan standar prestasi, (2) mengukur prestasi yang telah dicapai selama ini, (3) membandingkan prestasi yang telah dicapai dengan standar prestasi dan (4) melakukan perbaikan jika ada penyimpangan dari standar prestasi yang telah ditentukan.

3.    

      C. Jenis Manajemen berdasarkan fungsi

a.       Manajer umum

Manajer umum bertanggung jawab mengawasi unit tertentu yang mempunyai beberapa bidang sekaligus yang mencakup aktivitas pemasaran, keuangan dan operasi divisi tersebut.

b.      Manajer fungsional

Manajer fungsional bertanggung jawab terhadap satu aktivitas organisasi tertentu. Biasanya, manajer fungsional mencakup aktivitas fungsional perusahaan pemasaran, keuangan, sumber daya manusia atau personalina dan produksi.

 

Sumber referensi : BMP Manajemen;1-2/EKMA4116/4sks/Mamduh Hanafi, cet.12;Ed.2.